Sidik Hati
Kita meninggalkan sidik jari di kenop
pintu, buku, tembok, atau keyboard. Karena setiap orang memiliki sidik
jari yang berbeda, maka setiap kali kita memegang sesuatu, identitas
kita pasti akan tertinggal di sana. Beberapa supermarket di luar negeri
bahkan menggunakan suatu teknologi yang memungkinkan para pelanggan
dapat melakukan pembayaran dengan memindai sidik jari. Setiap sidik
jari dan nomor rekening pelanggan didokumentasikan, sehingga untuk
membayar tagihan mereka hanya perlu memindai sidik jari.
Seorang wanita yang hidup di zaman
gereja mula-mula meninggalkan jejak yang lain, yaitu “jejak hati”.
Dorkas menyentuh hidup banyak orang dengan talentanya yang unik, yakni
menjahit dan memberi baju. Ia digambarkan sebagai orang yang “banyak
sekali berbuat baik dan memberi sedekah” (Kisah Para Rasul 9:36). Kita
sebenarnya juga dapat menjadi orang yang “yang rajin berbuat baik”
(Titus 2:14). Kita mempunyai jejak hati yang unik, yang dapat menyentuh
hati orang lain.
“Ya Tuhan, ke mana
pun aku pergi, izinkan aku meninggalkan jejak hati! Jejak hati belas
kasihan, pengertian, dan kasih. Jejak hati yang penuh kebaikan dan
kepedulian yang tulus. Kiranya hatiku menyentuh orang yang kesepian,
anak perempuan yang pergi dari rumah, atau ibu-ibu yang risau bahkan
kakek-kakek tua. Utuslah aku untuk meninggalkan jejak hatiku. Dan, jika
ada seorang yang mengatakan, “Aku tersentuh”, kiranya ia merasakan
kasih-Mu melalui aku.”
<< sama seperti yang saya baca di tata ibadah GKI Gunsa
from http://www.fiorenz.com/