Archive for July, 2006

Pasrah

Thursday, July 20th, 2006

Saying is easy, but doing is difficult.
Saat aku mengatakan tuk berserah diri kepada orang lain, aku malah tidak bisa menerapkannya dalam hidupku. Saat ini aku aku lagi bingung dengan masa depanku. Kalau aku dulu bilang kalau esok adalah misteri itu adalah benar. Saking misterinya aku malah jadi ketakutan sendiri akan jalan yang ada didepanku. Takkan pernah kutahu apa yang akan terjadi nanti. Ternyata aku tak sekuat yang aku bayangkan. Mungkin aku lupakan Dia yang selalu ada bersamaku. Aku terlalu andalkan diriku sendiri untuk merancang masa depanku ini. Trims buat seorang sahabat yang telah bukakan pikiranku, bahwa aku tidak sendiri. Ingin hati ini bersandar dan berserah pada Dia yang telah mendampingiku. Kalau aku dulu berkata dengan sahabatku, pasrah dan berusaha. Lakukan yang terbaik menurutmu. Dan janganlah kuatir akan masa depanku, karena Dia pasti sedang persiapkan rencana yang indah buatku.
(trims buat Wiwik yang telah berikan aku “tamparan”, terima kasih atas semuanya……………….. God bless u all)

Semuanya berawal dari……..

Sunday, July 16th, 2006

Pagi ini, saat aku sedang terkantuk kantuk dalam perjalananku kembali ke Semarang, hampir di sepanjang jalan kota Semarang ada pemandangan unik.
Banyak anak anak dengan baju SMP, dengan warna putih birunya, bepenampilan heboh. Dengan menenteng tas dari bekas karung yang sudah dimodifikasi hingga dapat ditenteng di punggung, dan topi yang terbuat dari potongan bola yang dipotong separuh, kemudian rambut yang dikuncir warna warni. Sempat aku bertanya pada salah satu "korban", dan jawaban mereka yang mengagetkan. Bahwa jumlah kunciran adalah bergantung dari angka bulan kelahiran!Bisa jadi ada anak yang menyesal karena dilahirkan dibulan Desember dan bisa jadi ada orang tua yang mungkin merancang agar anak anaknya lahir di angka yang kecil (Januari-Maret). Jadi di masa depan mungkin sudah tidak ada lagi perayaan ulang tahun di bulan bulan akhir (tambah ngaco,hahahahahaha).
Dengan menggunakan alasan mempersiapkan mental, maka kegiatan itu seolah olah menjadi legal. Tapi memang benar, hasilnya kelihatan bagus. Bangsa kita memang dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi seorang pribadi yang memiliki mental tidak punya malu dari kecil. Jadi tidaklah mengherankan kalau pejabat pejabat kita pun juga demikian. Mungkin penderitaan mereka lebih hebat dari kita kita yanghidup di jaman sekarang ini, sehingga mental "tidak punya malu" mereka pun terbentuk dengan sempurna. Apakah memang demikian wajah pendidikan kita saat ini?
Saya memang tidak mempunyai background psikologi, jadi tidak tahu pasti sebesar apakah pengaruh kegiatan ini dalam pembentukan mental para murid di Indonesia.
Untuk semua yang jadi "korban", nikmatilah semua yang ada dan jadikan itu bahan cerita untuk anak cucumu kelak………….